Monday, December 6, 2010

Tugas Kuliah Tentang Rekayasa Genetika

Rekayasa Genetik Ikan Untuk Meningkatkan Produksi

Ketahanan pangan merupakan isu global yang sekarang sedang ramai dibicarakan. Kebutuhan manusia akan pangan yang bergizi terus mengalami peningkatan, maka alam dipaksa untuk memproduksi kebutuhan manusia hingga melebihi batas kemampuan alam tersebut. Hal ini mendorong manusia untuk mengembangkan berbagai teknologi, termasuk teknologi rekayasa genetika. Rekayasa genetika dapat membuat manusia mampu menggabungkan sifat suatu makhluk hidup dengan makhluk hidup lain yang sangat berbeda spesies, sifat dan cara hidupnya. Teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetika dalam bioteknologi telah melahirkan revolusi baru dalam berbagai bidang kehidupan manusia, yang dikenal sebagai revolusi gen. Produk teknologi tersebut berupa organisme transgenik atau organisme hasil modifikasi genetik (OHMG), yang dalam bahasa Inggris disebut dengan genetically modified organism (GMO) (Susanto 2008).
Bioteknologi perikanan adalah bioteknologi yang ditekankan khusus pada bidang perikanan. Penerapan bioteknologi dalam bidang perikanan sangat luas, mulai dari rekayasa media budidaya, ikan, hingga pascapanen hasil perikanan. Pemanfaatan mikroba telah terbukti mampu mempertahankan kualitas media budidaya sehingga aman untuk digunakan sebagai media budidaya ikan. Bioteknologi telah menciptakan ikan berkarakter genetis khas yang dihasilkan melalui rekayasa gen. Melalui rekayasa gen, dapat diciptakan ikan yang tumbuh cepat, warnanya menarik, dagingnya tebal, tahan penyakit dan sebagainya. Pada tahap pascapanen hasil perikanan, bioteknologi mampu mengubah ikan melalui proses transformasi biologi hingga dihasilkan produk yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.
Ikan sebagai salah satu sumber protein hewani mengandung semua jenis asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh manusia dengan nilai cerna yang tinggi. Selain itu, ikan mempunyai keunggulan komparatif terhadap sumber pangan protein lainnya (hewan terrestrial) di antaranya karena tingginya kandungan asam lemak tidak jenuh ganda omega-3 yang khas yaitu EPA (eicosapentanoic acid) dan DHA (dokosahecsanoic acid) yang berperan dalam penurunan kadar kolesterol dan trigliserida darah serta meningkatkan kecerdasan anak. Ikan juga kaya akan fosfor dan kalsium (mencegah osteoporosis), iodium (mencegah sakit gondok dan pembentukan IQ), vitamin A dan D serta selenium (mencegah premature aging) dan zat-zat bioaktif lainnya (antioksidan, antiinflamatori dan anti kanker) (Trilaksani dan Riyanto 2010). Saat ini Indonesia terus meningkatkan produksi ikan untuk memenuhi kebutuhan pangannya, sehingga peristiwa kelangkaan pangan di atas tidak perlu dialami.
Saat ini diduga telah lebih dari 20 spesies ikan berhasil direkayasa, antara lain trout pelangi, salmon, dan gurame. Hampir 10 tahun ikan transgenik tersimpan dalam tangki penelitian Departemen Perikanan dan Kelautan Kanada di Vancouver Barat. Ribuan salmon transgenik berenang lamban dan terus mengunyah karena diberi makan 20 kali sehari. Mereka dirancang tumbuh delapan kali lebih cepat dan berat 37 kali lebih besar dari ukuran normal (Berita Bumi 1999 dalam Plantus 2008). Hal ini tercipta tanpa disengaja. Awalnya peneliti A/F Protein mengamati ikan flounder yang mampu bertahan hidup dalam laut Kanada yang beku. Garth Fletcher, biolog ikan dari Universitas Memorial di New Foundland dan Choy Hew dari Universitas Toronto berhasil menemukan rahasia ikan flounder, yaitu adanya gen yang terdapat pada flounder sehingga mampu hidup di air beku. Kemudian gen tersebut digabungkan dengan gen pemicu pertumbuhan dengan harapan salmon dapat tumbuh sampai 20 – 30% lebih besar. Kedua gen disuntikkan ke embrio salmon sehingga terus memproduksi hormon pertumbuhan. Hasilnya, salmon tumbuh 400 – 600% lebih cepat dalam 14 bulan pertama, dan dapat dipasarkan setahun lebih cepat dari salmon biasa. Saat kombinasi gen ini diterapkan pada trout pelangi, ikan itu dapat tumbuh 8 – 10 kali lebih besar pada tahun pertama (Plantus 2008)
Ikan transgenik menjadi kontroversi bagi manusia dalam hal keamanan ikan tersebut untuk dikonsumsi. Hal ini menjadi kekhawatiran masyarakat terhadap ikan transgenik sebagai GMO yang dapat saja disisipkan gen dari hewan jenis lain, tumbuhan lain, bakteri, virus, bahkan DNA telanjang yang ditemukan di tanah. Analisa terhadap ikan transgenik masih terus dilakukan baik manfaat atau resikonya terhadap lingkungan atau habitat ikan transgenik dan masyarakat itu sendiri. Menurut Devlin (1999) dalam Plantus (2008), ikan transgenik jauh lebih agresif karena memiliki metabolisme tubuh yang cepat dan selalu lapar. Juni 1999 dilaporkan, sekitar 100.000 ekor salmon atlantik lepas dari tambak milik pemerintah di Washington. Ikan ini dikhawatirkan mengancam salmon Pasifik liar karena menghabiskan makanan dan merusak tempat pemijahan. Ikan rekayasa genetik itu sangat tangguh dan dikhawatirkan akan mengalahkan ikan liar dalam konsumsi makanan dan area pemijahan. Ada kemungkinan ikan transgenik yang kawin silang dengan ikan liar akan dapat mengubah susunan genetik.
Resiko di atas menimbulkan potensi bahaya bagi lingkungan dan manusia sebagai berikut: gangguan ekologis akibat transfer transgen kepada kerabat liar ikan, timbulnya virus baru, meningkatnya resistensi terhadap antibiotik, termasuk dan terutama pada manusia yang memakan produk transgenik, dan meningkatnya kecenderungan allergen, sifat toksik atau menurunnya nilai gizi pada pangan transgenik. Masalah-masalah kesehatan yang dihadapi biasanya karena kurangnya penelitian yang dilakukan terkait resiko-resiko kesehatan yang potensial atas ikan rekayasa genetik. Perubahan-perubahan pada bentukan kimia ikan dapat menyebabkan keracunan tingkat tinggi dan alergi. Rekayasa genetika atas organisme apa pun tetaplah eksperimen, sehingga semua resiko-resiko yang mungkin tetap tak diketahui (Peter dan Marchant 2003). Selain itu, penyakit bakteria dan perikanan meningkatkan ketahanan mereka terhadap antibiotik sebagai suatu akibat dari rekayasa genetika. Karena salmon RG akan dibiakkan di peternakan ikan, dimana kepadatan yang tinggi akan ikan dijejalkan dalam ruang kecil, mereka dapat dengan mudah menyebarkan penyakit ke ikan lain dan ekosistem (Yatim 2003). Nilai nutrisi atau kandungan gizi ikan yang dibesarkan di keramba jala terbuka mempunyai kandungan lemak yang lebih tinggi dan Omega 3 yang lebih rendah. Sebagai hasil dari berenang di lingkaran keramba yang tak ada putusnya daripada berenang dengan bebas di aliran air dan lautan, ikan RG mempunyai 30-70% lebih banyak lemak dibandingkan salmon liar. Mereka juga mengandung hampir 15% lebih sedikit lemak Omega 3 (lemak yang sehat) dibanding salmon liar (Nam et al. 2003).
Di balik kontroversi terhadap ikan transgenik yang belum cukup dianalisa pemanfaatannya bagi tubuh manusia dan dampak terhadap lingkungan terdapat beberapa damapak yang tidak merugikan. Contohnya adalah ikan hasil transgenik yaitu ikan nila Gift (Genetically Improvement Farmed Tilapia) dan ikan lele sangkuriang. Proyek budidaya tilapia rekayasa genetik berhasil lewat seleksi perkawinan dan perbaikan genetik strain Nile tilapia yang pertumbuhannya lebih baik daripada keturunan yang dibudidayakan di Filipina atau tempat lain di Asia (Berita Bumi 1999 dalam Plantus 2008). Tingkat produksi nila Gift lebih tinggi 30 – 50% daripada nila lokal dan produksinya mencapai sekitar 20 ton per hari sehingga mampu meningkatkan produksi budidaya. Lele sangkuriang yang merupakan hasil perbaikan genetika lele dumbo melalui silang balik (backcross) mempunyai kelebihan dibandingkan lele dumbo yaitu: tumbuh lebih cepat, dapat mencapai ukuran lebih besar, lebih banyak kandungan telur dan pakan tambahan bermacam-macam. Hal ini telah menjadikan lele sangkuriang sebagai komoditas perikanan yang sangat populer dan mendatangkan keuntungan sangat besar sebagai usaha peningkatan produksi.
Di balik serangkaian kontroversi terhadap pangan transgenik terutama ikan hasil rekayasa genetik lebih banyak bermanfaat dan dapat meningkatkan produksi ikan di Indonesia sebagai upaya untuk pencegahan rawan pangan yang terjadi di masyarakat. Selain itu, kebutuhan masyarakat akan pangan yang bergizi mampu dipenuhi. Untuk keamanan dalam mengkonsumsi ikan ini adalah perlunya dilakukan serangkaian uji laboratorium, tapi belum sepenuhnya teruji keamanannya pada manusia karena tidak ada standar baku untuk mengukur seberapa lama produk transgenik bisa dikatakan aman dan boleh dikonsumsi. Rekayasa genetik terhadap hasil perikanan perlu dilakukan dengan memanfaatkan gen-gen yang tidak berbahaya dan tidak berasal dari organism yang tidak sesuai serta tidak terjadinya rekayasa genetika pada ikan dengan menggunakan gen yang tidak sesuai dengan aspek agama, sosial, moral dan aspek lainnya. Keamanan terhadap ikan hasil rekayasa genetika perlu terus dilakukan namun hingga saat ini masyarakat yang mengkonsumsi akan ikan ini seperti nila gift dan lele sangkuriang belum melaporkan akan dampak yang buruk terhadap kesehatannya. 

Sumber Pustaka
Nam, Yoon K, Choong HN, Dong SK. 2003. Transmission and expression of an integreted reporter construct in three generations of transgenic mud loach (Misgurnus mizolepis). Aquaculture 172: 229-245.
Peter RE, Marchant TA. 2005. The endocrinology of groth in carp and releted species. Aquaculture 129: 299-321.

Plantus. 2008. Ikan, ternak dan kayu transgenik. http://anekaplanta.wordpress.com/author/plantus/ [9 Mei 2010]

Susanto. 2008. Bab XIV organisme transgenik. http://biomol.wordpress.com/bahan-ajar/organisme-trans/ [9 Mei 2010]

Trilaksani W, Riyanto B. 2010. Bahan Perkuliahan: Diversifikasi dan Pengembangan Produk Perairan. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Yatim W. 2003. Biologi Modern: Biologi Sel. Bandung: Tarsito.

No comments:

Post a Comment